Peribahasa ” Nasi sudah menjadi bubur” merupakan ungkapan penyesalan akibat perbuatan yang terlanjur dilakukan tanpa melihat akibat buruk yang timbul setelah perbuatan tersebut dilakukan, baik dampaknya mengenai dirinya sendiri maupun terhadap orang lain atau lingkungannya, sehingga yang tersisa hanya penyesalan yang tiada berguna.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengertian “nasi sudah menjadi bubur” adalah perbuatan yang sudah terlanjur dan tidak dapat diperbaiki lagi. Arti lainnya dari “nasi sudah menjadi bubur” adalah yang sudah telanjur, tidak dapat diperbaiki atau diubah lagi.
Peribasa ini bisa di alami oleh siapa saja, baik kaum muda atau tua, laki-laki maupun perempuan, berkaitan dengan kepentingan dunia ataupun berhubungan dengan kepentingan akherat. Apabila penyesalan terkait kepentingan dunia dan dirinya masih diberikan umur yang panjang sehingga membuat dirinya bangkit berdiri untuk merubah nasibnya menjadi lebih baik, maka hal itu sangat mungkin bisa dilakukan, tetapi ketika menyangkut tentang pertanggungjawaban dirinya ketika hidup didunia kemudian sampai dirinya menghadap kembali kepada Sang Pencipta, sehingga tidak ada kesempatan memperbaiki diri, maka inilah yang dimaksud penyesalan tiada berguna, karena dirinya tidak mungkin hidup kembali untuk melakukan perbaikan amal yang dulu telah dia abaikan dan tinggalkan, karena saat dirinya bermaksiat dan melanggar syariat Alloh SWT, dalam pikirannya tergambar bahwa seolah olah dirinya akan hidup selamanya didunia atau jika dirinya mati hanya akan kembali menjadi tanah kembali, selesai, tidak percaya tentang adanya hari kebangkitan, tidak percaya adanya hisab, tidak percaya adanya pertanggungjawaban atas apa yang dilakukan dan tidak percaya adanya siksa/azab Alloh SWT yang sangat pedih.
Sebenarnya telah banyak rambu rambu peringatan yang datang kepadanya, baik peringatan dari ayat ayat Alloh SWT dan para Nabi & RasulNya, caramah para usatad/kyai/rahib/pendeta, nasehat dari orang tua, saudara, teman dekat, tetapi hawa nafsunya lebih mendominasi dirinya untuk melanggar norma-norma/aturan/syariat yang ada, sehingga semua itu tidak dihiraukan. Orang orang yang abai dan tidak peduli itu dalam Alqur’an, Alloh SWT memberi perumpamaan bagaikan anjing yang menjulurkan lidahnya, sebagaimana firmanNya
وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنٰهُ بِهَا وَلٰكِنَّهٗٓ اَخْلَدَ اِلَى الْاَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوٰىهُۚ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ الْكَلْبِۚ اِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ اَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْۗ ذٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَاۚ فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ
Artinya : Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami tinggikan (derajat)nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginannya (yang rendah), maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia menjulurkan lidahnya (juga). Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir(Al-araf : 176)
atau seperti orang kafir yang sudah dikunci mati hatinya oleh Alloh SWT,
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا سَوَاۤءٌ عَلَيْهِمْ ءَاَنْذَرْتَهُمْ اَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ * خَتَمَ اللّٰهُ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ وَعَلٰى سَمْعِهِمْ ۗ وَعَلٰٓى اَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَّلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ ࣖ
Artinya : Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, penglihatan mereka telah tertutup, dan mereka akan mendapat azab yang berat.(Al-Baqarah ayat 6-7)
Alloh SWT menggambarkan orang orang yang ketika didunia hanya menuruti keinginan hawa nafsunya sehingga tidak memperdulikan seruan dan peringatan dalam Alqur’an dan Sunnah Rasululloh SAW sampai ajal menjemputnya tidak melakukan pertaubatan nashuha, maka ketika mereka diakherat menghadapi siksa yang sangat pedih yang terbukti mereka rasakan hingga tidak tahan menghadapinya, yang mana ketika masih didunia dirinya tidak pernah mempercayainya bahkan mencemoohkannya, maka akhirnya mereka memohon belah kasihan agar dikembalikan ke dunia supaya dirinya memperbaiki kesalahan yang telah diperbuatnya, tetapi masa kehidupan dunia telah berakhir, itulah yang dimaksud nasi sudah menjadi bubur, tidak ada opsi untuk bisa kembali lagi dan tinggal merasakan siksa yang pedih.
- Menyesal mengikuti ajakan mempersekutukan Alloh SWT
وَقَالَ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْا لَوْ اَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّاَ مِنْهُمْ ۗ كَمَا تَبَرَّءُوْا مِنَّا ۗ كَذٰلِكَ يُرِيْهِمُ اللّٰهُ اَعْمَالَهُمْ حَسَرٰتٍ عَلَيْهِمْ ۗ وَمَا هُمْ بِخَارِجِيْنَ مِنَ النَّارِ ࣖ
Artinya : “Dan orang-orang yang mengikuti berkata, “Sekiranya kami mendapat kesempatan (kembali ke dunia), tentu kami akan berlepas tangan dari mereka, sebagaimana mereka berlepas tangan dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal per-buatan mereka yang menjadi penyesalan mereka. Dan mereka tidak akan keluar dari api neraka” (Al-baqarah : 167).
Ibnu Katsir memberi penjelasan tambahan atas ayat ” “Sekiranya kami mendapat kesempatan (kembali ke dunia), tentu kami akan berlepas tangan dari mereka, sebagaimana mereka berlepas tangan dari kami.” sebagai berikut : “Akan tetapi, sebenarnya mereka berdusta dalam pengakuan itu, dan bahkan seandainya mereka dikembalikan lagi ke dunia, niscaya mereka akan kembali melakukan hal hal yang di larang mereka melakukannya, karena sesungguhnya mereka itu benar benar berdusta“
Kondisi orang orang yang disebutkan dalam alqur’an di atas, sesungguhnya juga telah terjadi pada umat ini, dimana tidak sedikit para pemuda islam yang begitu mudahnya mengambil idola dan teman teman yang membuat lupa terhadap kewajiban dirinya kepada Tuhannya, mereka lebih enjoy membangun kebersamaan diantara mereka sehingga mengabaikan perintah dan menerjang larangan Alloh SWT dan Rasul-Nya. Hal ini patut menjadi perhatian bagi kita semua, agar nantinya mereka tidak termasuk orang orang yang menyesal dan tidak bisa mengulang kehidupan lagi.
2. Penyesalan mendustakan ayat ayat Alloh SWT
وَلَوۡ تَرٰٓى اِذۡ وُقِفُوۡا عَلَى النَّارِ فَقَالُوۡا يٰلَيۡتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بِاٰيٰتِ رَبِّنَا وَنَكُوۡنَ مِنَ الۡمُؤۡمِنِيۡنَ* بَلۡ بَدَا لَهُمۡ مَّا كَانُوۡا يُخۡفُوۡنَ مِنۡ قَبۡلُؕ وَلَوۡ رُدُّوۡا لَعَادُوۡا لِمَا نُهُوۡا عَنۡهُ وَاِنَّهُمۡ لَـكٰذِبُوۡنَ وَقَالُوۡۤا اِنۡ هِىَ اِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنۡيَا وَمَا نَحۡنُ بِمَبۡعُوۡثِيۡنَ *وَلَوۡ تَرٰٓى اِذۡ وُقِفُوۡا عَلٰى رَبِّهِمۡ ؕ قَالَ اَلَـيۡسَ هٰذَا بِالۡحَـقِّ ؕ قَالُوۡا بَلٰى وَرَبِّنَا ؕ قَالَ فَذُوۡقُوا الۡعَذَابَ بِمَا كُنۡتُمۡ تَكۡفُرُوۡنَ *قَدۡ خَسِرَ الَّذِيۡنَ كَذَّبُوۡا بِلِقَآءِ اللّٰهِؕ حَتّٰٓى اِذَا جَآءَتۡهُمُ السَّاعَةُ بَغۡتَةً قَالُوۡا يٰحَسۡرَتَنَا عَلٰى مَا فَرَّطۡنَا فِيۡهَا ۙ وَهُمۡ يَحۡمِلُوۡنَ اَوۡزَارَهُمۡ عَلٰى ظُهُوۡرِهِمۡؕ اَلَا سَآءَ مَا يَزِرُوۡنَ
Artinya: “Dan seandainya engkau (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, mereka berkata, “Seandainya kami dikembalikan (ke dunia), tentu kami tidak akan mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman.” . Tetapi (sebenarnya) bagi mereka telah nyata kejahatan yang mereka sembunyikan dahulu. Seandainya mereka dikembalikan ke dunia, tentu mereka akan mengulang kembali apa yang telah dilarang mengerjakannya. Mereka itu sungguh pendusta,. Dan tentu mereka akan mengatakan (pula), “Hidup hanyalah di dunia ini, dan kita tidak akan dibangkitkan.“. (Al-An’am : 27-29)
3. Penyesalan mendustakan hari kiamat dan pertemuannya dengan Alloh SWT
وَلَوْ تَرَىٰٓ إِذْ وُقِفُوا۟ عَلَىٰ رَبِّهِمْ ۚ قَالَ أَلَيْسَ هَٰذَا بِٱلْحَقِّ ۚ قَالُوا۟ بَلَىٰ وَرَبِّنَا ۚ قَالَ فَذُوقُوا۟ ٱلْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْفُرُونَ # قَدْ خَسِرَ ٱلَّذِينَ كَذَّبُوا۟ بِلِقَآءِ ٱللَّهِ ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَتْهُمُ ٱلسَّاعَةُ بَغْتَةً قَالُوا۟ يَٰحَسْرَتَنَا عَلَىٰ مَا فَرَّطْنَا فِيهَا وَهُمْ يَحْمِلُونَ أَوْزَارَهُمْ عَلَىٰ ظُهُورِهِمْ ۚ أَلَا سَآءَ مَا يَزِرُونَ
Artinya : “Dan seandainya engkau (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan kepada Tuhannya (tentulah engkau melihat peristiwa yang mengharukan). Dia berfirman, “Bukankah (kebangkitan) ini benar?” Mereka menjawab, “Sungguh benar, demi Tuhan kami.” Dia berfirman, “Rasakanlah azab ini, karena dahulu kamu mengingkarinya.”. Sungguh rugi orang-orang yang mendustakan pertemuan dengan Allah; sehingga apabila Kiamat datang kepada mereka secara tiba-tiba, mereka berkata, “Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang Kiamat itu,” sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Alangkah buruknya apa yang mereka pikul itu“.( Al-An’am : 30-31)
4. Penyesalan tidak mentaati perintah Alloh SWT dan RasulNya
وَاَنْذِرِ النَّاسَ يَوْمَ يَأْتِيْهِمُ الْعَذَابُۙ فَيَقُوْلُ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا رَبَّنَآ اَخِّرْنَآ اِلٰٓى اَجَلٍ قَرِيْبٍۙ نُّجِبْ دَعْوَتَكَ وَنَتَّبِعِ الرُّسُلَۗ اَوَلَمْ تَكُوْنُوْٓا اَقْسَمْتُمْ مِّنْ قَبْلُ مَا لَكُمْ مِّنْ زَوَالٍۙ
Artinya: Dan berikanlah peringatan (Muhammad) kepada manusia pada hari (ketika) azab datang kepada mereka, maka orang yang zalim berkata, “Ya Tuhan kami, berilah kami kesempatan (kembali ke dunia) walaupun sebentar, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul.” (Kepada mereka dikatakan), “Bukankah dahulu (di dunia) kamu telah bersumpah bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?(Ibrahim : 44)
5. Penyesalan karena mempersekutukan Alloh SWT hingga hartanya di binasakan
وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِ فَأَصْبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ عَلَىٰ مَا أَنْفَقَ فِيهَا وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا وَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُشْرِكْ بِرَبِّي أَحَدًا
Artinya : “Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata: “Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku”(Al-Kahfi : 42)
6. Penyesalan tidak mau beramal shaleh
حَتّٰٓى اِذَا جَاۤءَ اَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُوْنِۙ لَعَلِّيْٓ اَعْمَلُ صَالِحًا فِيْمَا تَرَكْتُ كَلَّاۗ اِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَاۤىِٕلُهَاۗ وَمِنْ وَّرَاۤىِٕهِمْ بَرْزَخٌ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ
Artinya: (Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan. (Al-Mu’minun : 99-100).
وَجِايْۤءَ يَوْمَىِٕذٍۢ بِجَهَنَّمَۙ يَوْمَىِٕذٍ يَّتَذَكَّرُ الْاِنْسَانُ وَاَنّٰى لَهُ الذِّكْرٰىۗ يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِيْ قَدَّمْتُ لِحَيَاتِيْۚ
Artinya : “dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahanam; pada hari itu sadarlah manusia, tetapi tidak berguna lagi baginya kesadaran itu.Dia berkata, “Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini.”(Al-Fajr : 23-24)
7. Penyesalan salah memilih teman akrab yang mengajak kepada kemaksiatan
وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰى يَدَيْهِ يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِى اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُوْلِ سَبِيْلً * يٰوَيْلَتٰى لَيْتَنِيْ لَمْ اَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيْلً*الَقَدْ اَضَلَّنِيْ عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ اِذْ جَاۤءَنِيْۗ وَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِلْاِنْسَانِ خَذُوْلًا
Artinya : “.Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang zalim menggigit dua jarinya, (menyesali perbuatannya) seraya berkata, “Wahai! Sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul..Wahai, celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). .sungguh, dia telah menyesatkan aku dari peringatan (Al-Qur’an) ketika (Al-Qur’an) itu telah datang kepadaku. Dan setan memang pengkhianat manusia.”(Al-furqon : 27-29).
Sayid Qutb dalam Tafsir Fii Zhilalil Qur’an , memberi penjelasan atas ayat : …Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku), sebagai berikut : “Si fulan disebut secara anonim, sehingga mencakup semua teman yang buruk yang menghalangi seseorang dari jalan Rasululloh SAW dan menyesatkannya dari mengingat Alloh SWT”
8. Penyesalan karena kikir/tidak mau shodaqoh
وَاَنْفِقُوْا مِنْ مَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُوْلَ رَبِّ لَوْلَآ اَخَّرْتَنِيْٓ اِلٰٓى اَجَلٍ قَرِيْبٍۚ فَاَصَّدَّقَ وَاَكُنْ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ
Artinya: “Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.”(Al-Munafiqun : 10)
9. Penyesalan tidak mau mendengarkan nasehat peringatan agama
وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ
Artinya : “Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”(Al-mulk : 10)
Oleh karenanya wahai para pemuda pemudi, wahai saudara saudara, wahai bapak bapak dan ibu ibu, wahai para kakek dan nenek yang masih diberi kesempatan hidup didunia, beregeralah menuju ampunan Alloh SWT untuk meraih kenikmatan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi. Bersegeralah melakukan penyesalan dan bertaubat atas kelalaian dan bermaksiat kepada Alloh SWT sebelum ajal menjemput, agar di akherat nanti tidak menyesal tiada berguna.
وَسَارِعُوۡۤا اِلٰى مَغۡفِرَةٍ مِّنۡ رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالۡاَرۡضُۙ اُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِيۡنَۙ
Artinya : “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa”.(Al-Imran : 133)
فَيَوْمَئِذٍ لَّا يَنفَعُ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ مَعْذِرَتُهُمْ وَلَا هُمْ يُسْتَعْتَبُونَ
Artinya: “Maka pada hari itu tidak bermanfaat (lagi) bagi orang-orang yang zalim permintaan uzur mereka, dan tidak pula mereka diberi kesempatan bertaubat lagi“(Ar-erum : 57)
Sumber :
- Al-qur’an terjemahan web
- https://ibnothman.com/quran/
- Tafsir Ibnu Katsir
- Tafsir Fii Zilalil qur’an
- https://kbbi.web.id/
–ai–