RSS

KH Agus Salim

Tokoh Perjuangan By islamudin69 30 Juli 2026 0 Comments

Gambar google

Sang Inspirator Pahlawan Nasional

KH Agus Salim (8 Oktober 1884 – 4 November 1954) ditetapkan sebagai Pahlawan Pejuang Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 27 Desember 1961melalui Keputusan Presiden Indonesia Nomor 657 tahun 1961. Beliau merupakan salah satu tokoh penting pergerakan Indonesia yang dikenal sebagai ulama, intelektual, diplomat ulung, dan pejuang kemerdekaan. Haji Agus Salim laksana bintang cemerlang dalam pergolakan politik Indonesia. Karena kepiaweannya dalam diplomasi walaupun umur sudah semakin tua, maka teman temannya sesama diplomat memberi gelar beliau “Orang Tua Besar” (The Grand Old Man).

KH Agus Salim sangat patut menjadi inspirasi dan teladan bagi generasi muda maupun para pejabat di Indonesia dalam hal : semangat belajar, semangat berkorban, pantang menyerah sebelum tercapai cita cita, kesederhanaan hidup, kejujuran dan amanah dalam menunaikan tugas negara. Semoga Alloh SWT menerima amal ibadah dan perjuangan jihadnya melawan penjajah sehingga menjadi pemberat timbangan kebaikan di akherat serta menempatkan dalam Syurga-Nya. Aamiin.

Keturunan Tokoh Besar

KH Agus Salim lahir pada tanggal 08 Oktober 1884 di Kota Gadang, Bukittinggi, Minangkabau, dari pasangan Angku Sutan Mohammad Salim dan Siti Zaenab. Nama yang disematkan sang ayah waktu kelahirannya adalah Masjhoedoelhaq Salim, yang artinya “pembela kebenaran”. Pemberian nama orangtua kepada anaknya yang bagus merupakan doa dalam bahasa arab yang mempunyai makna bagus. Ayahnya seorang Kepala Jaksa Pengadilan Tinggi Riau yang mempunyai garis keturunan nama besar kakeknya Abdur Rahman Dt.Rangkayu Baso yang menjabat Jaksa Tinggi di Padang, sedangkan kakek buyutnya , Tuanku Imam Syaikh Abdullah bin Azis seorang ulama panutan di Koto Gadang.

Nama Agus Salim bermula saat masa anak anak Mashoedoelhaq Salim dalam pengasuhan seorang perempuan jawa yang sehari-hari memanggil dengan “Den Bagus” kemudian lama kelamaan disingkat hanya”Agus“. Kemudian nama panggilan itu menjadi terkenal di kalangan teman teman sekolahnya di Europeesche Legere School(ELS) atau sekolah khusus untuk anak anak Eropa di Hindia Belanda. Sedangkan guru gurunya yang berasal dari Belanda memanggil dengan sebutan “August Salim‘, sehingga nama panggilan itu melekat dalam dirinya hingga dewasa yang populer dengan lidah orang Indonesia dengan sebutan “Agus Salim” sampai beliau wafat dan di beri gelar sebagai pahlawan.

Pendidikan

Masa kecil KH Agus Salim mengenyam pendidikan di sekolah kampung tempat kelahirannya yang lebih banyak mengajarkan mengaji (agama islam) dan kebudayaan minangkabau. Semangat belajar yang tinggi ditambah anugerah Alloh SWT berupa kecerdasan dan sikap kritis serta didukung dengan kedudukan sang ayahanda (Sutan Mohammad Salim ) yang menjadi pejabat pemerintah sebagai Hoofdjaksa (Jaksa Tinggi) di wilayah Onderhorigheden (daerah bawahan) Riau, membuat Masjhoedoelhaq Salim saat usianya sekitar enam tahun bisa melanjutkan pendidikan formal di sekolah anak anak orang Eropa atau Europeesche Legere School(ELS setingkat SD). Selama mengikuti pelajaran di ELS, Masjhoedoelhaq Salim dikenal sebagai anak cerdas, kritis, aktif dalam berbagai kegiatan, dan potensial. Hal itu menarik perhatian salah seorang guru Belanda yang terkenal revolusioner bernama Jan Brouwer, lalu Agus Salimpun mendapat bimbingan langsung secara serius oleh sang guru revolusioner dibandingkan dengan teman teman lain di sekolah yang sama.

Setelah lulus ELS Agus Salim melanjutkan ke sekolah tingkat menengah Hogree Burger School(HBS) di Batavia, sebuah sekolah elite yang hanya bisa diakses oleh siswa siswa pilihan. Karena ejak sekolah di ELS dikenal anak yang cerdas, kritis dan berprestasi sehingga bisa lulus dengan sangat baik, maka dapat diterima dan melanjutkan sekolah di HBS. Berkat ketekunan, disiplin dan usaha keras Agus Salim dalam belajar, akhirnya tahun 1903 lulus dengan nilai terbaik di seluruh HBS Hindia Belanda.

Agus Salim sebenarnya mempunyai cita cita untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi setelah lulus HBS mengambil jurusan kedokteran di negara Belanda melalui jalur beasiswa, karena sekolah di negeri jauh dengan biaya sendiri akan cukup mahal, namun Alloh SWT belum mentakdirkan dirinya mendapatkan beasiswa tersebut. Mendengar hal tersebut R.A. Kartini (5 tahun lebih senior) sangat mendukung rencana studinya Agus Salim ke Belanda dan meminta anggaran beasiswa untuknya dialihkan seluruhnya kepada Agus Salim. Jikalau Pemerintah Belanda hanya bersedia mendanai setengahnya, Kartini bersedia mencarikan setengah dananya lagi untuk Salim. Namun niat baik RA Kartini tersebut dengan harga diri Agus Salim menolak tawaran tersebut, menurutnya bantuan itu terasa seperti “hadiah” atas usul orang lain, bukan pengakuan murni pemerintah atas prestasinya. Ia justru mencium aroma diskriminasi, katanya, mengapa ia baru dibantu setelah Kartini yang meminta? Kalau pemerintah mengirim saya karena anjuran Kartini, bukan karena kemauan pemerintah sendiri, lebih baik tidak.

Kesederhanaan

KH Agus Salim menikah dengan Zaenatun Nahar pada tahun 1912, dan dari pernikahannya dikaruniai 10(sepuluh) anak yang terdiri dari 5(lima) anak laki laki dan 3(tiga) anak perempuan yang diberi nama : Ahmad Sjauket, Violet Hanifah, Jusuf Taufik, Maria Zenobia, Abdul Hadi, Sidik Salim, Islam Basari, Zuchra Adiba, Siti Asia dan Theodora Atiayang, kemudian 2(dua) anak telah meninggal dunia, ada yang meninggal saat masih kecil dan ada yang gugur dalam insiden 25 Januari 1946 saat mengambil alih persenjataan Jepang bersama Daan Mogot di Serpong, Tangerang.

Untuk pendidikan semua anak anaknya, KH Agus Salim tidak menyerahkannya ke sekolah umum Hindia Belanda tteapi lebih memilih mendidik sendiri di rumah(atau istilah sekarang dikenal home schooling) mungkin kawatir salah dalam pergaulan dengan anak anak Eropa yang menganut kebebasan. Walaupun tidak sekolah di pendidikan formal, tetapi KH Agus Salim membiasakan anak-anaknya berkomunikasi bahasa Belanda dalam kesehariannya (Roem, 1978: 118).

Meskipun KH Agus Salim pernah menjadi pejabat negara,namun kehidupan keluarganya sangat sederhana dan tidak hedonisme, tidak aji mumpung dengan pamer kemewahan seperti keluarga para pejabat masa sekarang, bahkan Willem Schermerhorn (pejabat Belanda) dalam buku hariannya Het dagboek van Scermerhom, menulis tentang KH Agus Salim ” Orang tua yang sangat pandai ini adalah seorang genius. Ia mampu berbicara dan menulis secara sempurna sedikitnya dalam sembilan bahasa. Kelemahannya hanya satu:ia hidup menderita”

Kemampuan Berbahasa dan Menulis

Kecerdasan dan ketekunan dalam belajar membuat KH Agus Salim diusia masih muda telah menguasai 7(tujuh) bahasa asing(4(empat) bahasa Eropa : Bahasa Belanda, Bahasa Inggris, Bahasa Jerman, Prancis); 2(dua) bahasa Timur Tengah :Turki, dan Arab; 1(satu) bahasa Asia : Jepang). Kemampuan langka dan luarbiasa dalam bidang bahasa tersebut memudahkan beliau bergaul dan berkomunikasi di kancah internasional, diantaranya ketika ditunjuk sebagai utusan untuk melakukan lobby lobby mendapatkan pengakuan Kemerdekaan Negara Republik Indonesia oleh negara negara lain.

Selain menguasai banyak bahasa asing, KH Agus Salim juga mempunyai kemampuan di bidang jurnalistik/penulis, sehingga sejak tahun 1915 sudah menggeluti dunia tulis menulis di surat kabar. Kemampuan jurnalistiknya mengantarkan dirinya dipercaya menjadi Redaktur II surat kabar Harian Neratja kemudian kariernya naik menjadi Ketua Redaksi, bahkan dipercaya juga memimpin surat kabara Harian Hindia Baroe di Jakarta. KH Agus Salim juga mendirikan surat kabar Harian Fadjar Asia di Yogyakarta sekaligus sebagai Ketua Redakturnya dan dipercaya sebagai Redaktur Harian Moestika di Yogyakarta. Masih terkait dengan dunia jurnalistik, Agus Salim membuka kantor Advies en Informatie Bureau Penerangan Oemoem (AIPO) dan pada tahun 1952, ia menjabat Ketua Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia.

Beberapa karya jurnalistik KH Agus Salim, diantaranya :

Bentuk Karya Tulis & buku

  • Riwayat Kedatangan Islam di Indonesia
  • Hal Ilmu Quran
  • Muhammad voor en na de Hijrah
  • Gods Laatste Boodschap
  • Jejak Langkah Haji Agus Salim (Kumpulan karya Agus Salim yang dikompilasi koleganya, Oktober 1954)
  • Hoekoem yang ke lima
  • Buku Keterangan Filsafat Tentang Tauchid, Takdir dan Tawakal.

Karya Terjemahan

  • Menjinakkan Perempuan Garang(The Taming Of The Shrew karya Shakespare)
  • Cerita Mowgli Anak Dididkan Rimba(The Jungle Book karya Rudyard Kipling)
  • Sejarah Dunia(karya E Molt)

Belajar Agama di Jeddah

Cita citanya melanjutkan sekolah dengan beasiswa di Belanda kandas, akhirnya Agus Salim bekerja sebagai penterjemah di Riau dan sempat pindah kerja di perusahaan pertambangan batu bara di Indragiri. Kemampuan dalam pengusaan bahasa Arab dan diplomasi, seorang sarjana Belanda bidang budaya Oriental dan bahasa serta Penasehat Urusan Pribumi untuk pemerintah kolonial Hindia Belanda yang bernama Christiaan Snouck Hurgronje mengusulkan dan menawarkan kepada Agus Salim untuk menjadi pegawai konsulat Hindia Belanda di Jeddah, Arab Saudi. KH Agus Salim menerima tawaran tersebut dengan antusias dan senang hati, karena dengan tinggal di Jedah akan menjadikan dirinya punya kesempatan banyak belajar Islam dari sumbernya dimana Nabi Muhammad SAW di lahirkan dan di utus Alloh SWT menjadi Nabi dan Rasul. Selama lima tahun (1906-1911) menjadi Konsulat Belanda di Jeddah, selain bekerja dengan baik, kesempatan tersebut tidak disiakan siakan untuk menunaikan ibadah haji, menimba ilmu islam dan bertemu ulama-ulama Nusantara yang menjadi tokoh penting di Mekkah dan Madinah, diantaranya dipertemukan dengan pamannya sendiri, Syekh Ahmad Khatib A-Minangkabawi seorang ulama bermadzab Syafi’i yang sangat dihormati di Masjidil Haram.

Sepulang dari Jeddah, KH Agus Salim bekerja di Dinas Pekerjaan Umum Pemerintah Hindia Belanda(Bureau Voor Openbare Werken) di Batavia. Meskipun berada dalam birokrasi kolonial, namun Agus Salim merasakan adanya ketidak adilan yang dialami dirinya maupun terhadap rakyat pribumi lainnya yang sama sama menjadi pegawai. Berangkat dari pemahaman islam mendalam dan rasa nasionalisme yang tinggi membangkitkan semangat patriotisme dalam dirinya untuk berjuang serta berbuat banyak di kampung halaman agar lebih memberi manfaat kepada saudara saudara pribumi lainnya.

Pulang Kampung

Setelah merasakan frustasi melihat ketidak adilan saat bekerja di birokrasi pemerintah Hindia Belanda, menguatkan tekad Agus Salim keluar dari pekerjaan seabagi pegawai Dinas PU Hindia Belanda untuk pulang dan mengabdi dikampung halamannya. Keinginannya mencerdaskan dan mengangkat derajat orang orang pribumi, di Kota Gadang Agus Salim mendirikan sebuah sekolah swasta atau partikelir yang bernama HIS(Hollandsch Inlandsche School) dengan nama awal HIS Studiefonds. Sekolah tersebut didirikan dengan usaha mandiri masyarakat setempat, gedung sekolah dibangun dengan swadaya dan semangat gotong royong masyarakat Koto Padang. Pendirian sekolah tersebut merupakan narasi perjuangan Agus Salim untuk mendapatkan keadilan, melawan pendindasan dan kontribusinya bagi generasi mendatang. Sebagai penasehat sekolah HIS selama tiga tahun, mempunyai peran kunci dalam pengembangan sekolah tersebut. namun akhirnya sekolah yang rintis di kampung halamannya itu harus dia tinggalkan untuk pindah ke Jawa.

Seiring berjalannya waktu kepindahan KH Agus Salim ke pulau Jawa, akhirnya pada tanggal 1 Juli 1929 HIS Studienfonds diambil alih oleh pemerintah Hindia Belanda dan menjadi sekolah resmi milik pemerintah dan berganti nama menjadi Gouvernements Hollandsch School atau HIS Gouvernements, yang mana pada saat itu jumlah muridnya telah mencapai 207 siswa dengan jenjang pendidikan terdiri atas 7(tujuh) kelas.

Bersama Pergerakan

Sebelum berangkat ke Pulau Jawa tahun 1915, Agus Salim telah menikah dengan Zainatun Nahar dari Koto Gadang, artinya dirinya sudah tidak sendiri lagi tetapi sudah punya tanggung jawab sebagai suami yang harus menghidupi keluarganya. Sudah barang tentu menuntut dirinya harus punya pekerjaan, sedangkan kedatangannya di Pulau Jawa belum ada kepastian pekerjaan apa yang akan dilakukan.

Sesampainya di Jawa, Agus Salim bertemu teman lamanya Datuk Tumenggung yang bekerja sebagai penasehat urusan bumiputra atau adviseur voor inlandsche zaken, lalu menawari dirinya pekerjaan menjadi telik sandi yang tugasnya memata matai pemimpin Serikat Islam(SI) Haji Oemar Said Tjokroaminoto karena dicurigai menerima uang sebesar 150 ribu gulden dari Jerman untuk memimpin pemberontakan terhadap pemerintah Hindia Belanda, dan Informasinya ada sebuah kapal Jerman sedang perjalanan menuju Jawa mengangkut 40 ribu pucuk senjata.

Disamping kebutuhan pekerjaan, tawaran tersebut bisa menjadi peluang dirinya untuk lebih mengenal dan dekat dengan tokoh perjuangan kemerdekaan. Sesampainya di Jawa mulailah dia melakukan pendekatan kepada Tjokroamnito. Kemampuan komunikasi yang baik membuat dirinya semakin di kenal oleh Tjokroaminoto. Kedekatan dan kepercayaan terhadapnya menjadikan Agus Salim selalu diminta mendampingi setiap rapat atau pertemuan Serikat Islam, bahkan ketika SI menyelenggarakan kongres di Surabaya, Agus Salim turut diundang untuk hadir, sehingga dia dapat menyaksikan langsung perkembangan dan dinamika gerakan perjuangan kemerdekaan yang dilakukan tokoh pergerakan Serikat Islam. Hal ini tentunya memudahkan tugas dirinya dalam mengumpulkan informasi sebagai mata mata.

Namun tugas Agus Salim yang awalnya memata matai Tjokroaminoto, malah membuat dirinya kagum terhadap sang tokoh yang seharusnya menjadi target, dimana Sang Ketua SI begitu di hormati dan di puja puja oleh pengikutnya. Namun rasa kagum tersebut tidak mengurangi sikap kritis yang dimiliknya ketika melihat sesuatu yang tidak tepat. Menurut pandangan dan pemahamnnya apa yang dilakukan pengikut Tjokroaminoto terlalu berlebih lebihan dan tidak selayaknya di miliki seorang pejuang kemerdekaan yang seharusnya mengedepankan prinsip kesederhanaan, karena dikhawatirkan malah membahayakan tujuan perjuangan.

Setelah mempelajari sepak terjang Serikat Islam terutama terhadap tokoh pendirinya Hatji Oemar Said Tjokroaminto dalam memperjuangkan kemerdekaan berlandaskan nilai nilai islam, maka KH Agus Salim ikut bergabung menjadi anggota Serikat Islam bersama Abdul Muis sebagai wakil ketua SI. Tujuan bergabungnya ke SI untuk memajukan, menata, menyusun kehidupan umat muslim, baik di lapangan ekonomi, sosial, maupun kebudayaan berasaskan Islam serta menentang penindasan dan kesewenang-wenangan terhadap rakyat yang dilakukan pemerintahan kolonial Belanda. Ketika tahun 1923 SI dilanda perpecahan antara kelompok Semaun yang ingin SI berhaluan kiri, Agus Salim tetap bersama Tjokroaminto mempertahankan Serikat Islam dengan haluan islam, sedangkan Semaun keluar dari SI lalu mendirikan organisasi Serikat Rakyat yang kemudian menjadi PKI.

Selain aktif di Serikat Islam, KH Agus Salim termasuk menjadi inspirator berdirinya organisaasi non politik Jong Islamieten Bond (JIB)/ Perhimpunan Pemuda Islam) yang berdiri pada tanggal 1 Januari 1925. JIB merupakan organisasi perhimpunan pemuda dan pelajar Islam Hindia Belanda yang kegiatannya menyelenggarakan kursus-kursus pendidikan dan mempererat persatuan bagi pemuda dan pelajar Islam Hindia Belanda. Walaupun hanya sebagai penasehat JIB bukan Ketua Umum, namun KH Agus Salim aktif ikut mengkampanyekan JIB di Bandung agar para pemuda dan pelajar mengenal dan memahami apa tujuan aktifitas JIB didirikan, sehingga harapannya mereka dengan suka rela bergabung dan semakin banyak cabangnya di daerah daerah. Prinsipnnya selama organisasi tersebut sebagai sarana meninggikan islam dan berkontribusi dalam perjuangan kemerdekaan, maka disitu KH Agus Salim akan ikut berperan.

Karier Politik

  • Anggota Volksraad/Dewan Rakyat mewakili PSII menggantikan HOS Tjokroaminoto & Abdul Muis yang keluar(1921–1924);
  • Anggota Panitia Sembilan dalam Badan Penyelidik Usaha usaha Persiapan Kemerdekaan(BPUPKI) yang mempersiapkan UUD 1945;
  • Anggota Dewan Pertimbangan Agung(1945-1946):
  • Menteri Muda Luar Negeri dikabinet Syahrir I dan II dari 12 Maret 1946 hingga 3 Juli 1947;
  • Utusan pembukaan hubungan diplomatik Indonesia dengan negara-negara Arab, terutama Mesir pada tahun (1947);
  • Menteri Luar Negeri Kabinet Amir Sjarifuddin I dan Amir Sjarifuddin II(1947-1948);
  • Menteri Luar Negeri dikabinet Hatta I dan II dari 23 Januari 1948 hingga 20 Desember 1949;
  • Penasehat Menteri Luar Negeri Kabinet Presidensial dan pada tahun 1950 sampai akhir hayatnya;

Beberapa Quote

Tuhan tidak pernah meminta kepada manusia untuk membantu Nya memerangi kebathilan. Tuhan mengajarkan kepada kita berdoa memohon bantuan Nya dalam memerangi kebathilan.

Pelajaran di sekolah saja tidak cukup. Kita harus belajar sendiri untuk menambah pengetahuan dan pengalaman. Sekolah bukan satu-satunya tempat pendidikan, tetapi salah satu tempat pendidikan

Leiden is Lijden(Memimpin adalah menderita)”

ai

Referensi

Yanuar Arifin, Agus Salim (Peran dan Sumbangsihnya bagi Indonesia), Diva Press,2024

Orange for Integrity Juice, Belajar Inegritas kepada Toh Bangsa, Komisi Pemberantasan Korupsi, 2014

https://id.wikipedia.org/wiki/Agus_Salim#

https://www.infobiografi.com/biografi-dan-profil-lengkap-haji-agus-salim/

https://www.lyceum.id/biodata-h-agus-salim/

https://ensiklopediaislam.id/agus-salim

https://www.republika.id/posts/39876/hari-kartini-kartini-agus-salim-dan-buya-hamka

https://democrazy.id/kisah-kartini-tolak-beasiswa-ke-belanda-demi-haji-agus-salim/

https://id.wikipedia.org/wiki/Jong_Islamieten_Bond

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari islamudinblog

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca